Apa itu homeschooling - Catatan

Apa itu homeschooling - Catatan

Sekolah adalah salah satu jalan mendapatkan pendidikan tetapi pendidikan itu sendiri tak hanya sekolah. Sebutan  untuk pendidikan berbasis keluarga adalah homeschooling atau sekolah rumah.

Anak-anak yang dididik di rumah ini berkembang dengan baik, tumbuh dengan wajar dan bahagia.

Menurut riset di US, prestassi akademis rata-rata anak homeschooling lebih baik dibandingkan rata-rata anak sekolah.

Homeschooling dibangung berdasarkan nilai-nilai kebebasan bertanggung jawab pada orangtua atas arah pendidikan anak-anaknya.

Homeschooling bukanlah lembaga, tetapi keluarga, Homeschooling adalah model pendidikan saat keluarga memilih menyelenggarakan sendiri dan bertanggung jawab pendidikan  anak-anaknya.

Spirit dasar proses pembelajaran dalam homeschooling

  • belajar apa saja (yang diminati)
  • belajar di mana saja (yang disukai)
  • belajar dengan cara apa saja (yang sesuai)
  • belajar kapan saja (diinginkan)
  • belajar adalah hak, bukan kewajiban
  • belajar itu menyenangkan bukan membebani

Keluarga homeschooling adalah praktisi, bukan pengamat. Homeschooling adalah politik aksi. Dalam homeschooling, apa yang kita anggap kekurangan dalam praktik pendidikan tidaklah berhenti pada kritik. Gagasan tentang solusi tak hanya menjadi wacana, tetapi dihidupkan menjadi aksi yang dinapasi dengan kesediaan terjun langsung merealisasikannya beserta kesiapan menerima risiko yang menyertainya.

Orang tua adalah guru pertama dan sekaligus guru utama bagi anak. Pendidikan anak merupakan tanggung jawab orangtua dan tak ada yang bisa menggantikannya dalam pendidikan anak.

Kekhasan dan kekuatan homeschooling paling besar adalah customized education; pendidikan yang disesuaikan dengan potensi anak dan lingkungan yang ada di sekitar.

Daripada memusatkan diri pada kelemahan anak yang harus diperbaiki dan ditingkatkan agar sama dengan anak yang lain, orangtua dapat lebih memfokuskan diri pada kekuatan dan potensi anak. Energi terbesar disalurkan untuk melejitkan potensi dan kekuatan anak, sementara kelemahan anak diperbaiki sampai batas minimal agar tak menghalangi kelangsungan hidupnya.

Bagi orangtua yang ingin mendapatkan pendidikan berkualitas dengan biaya minimum, kuncinya terletak pada kerja keras dan kreativitas orangtua itu sendiri.

Menjadi perintis bukanlah sebuah peran yang mudah untuk dijalani. Dibutuhkan keteguhan dan kelenturan mental untuk melawan arus yang berbeda. Diperlukan kerja keras untuk mewujudkan hal yang diidealkan karena infrastruktur dan sarana pendukung untuk pelaksanaan homeschooling masih terbatas.

Tantangan eksternal yang perlu anda perhatikan adalah aturan-aturan mengenai homeschooling yang dibuat oleh pemerintah.Ketidak pastian sebagai akibat peraturan pendidikan yang berubah-ubah adalah risiko yang harus anda pertimbangkan saat memilih homeschooling.

Dalam Hal sosialisasi, Walaupun pergaulan dengan teman sebaya adalah sebuah hal yang penting dalam pertumbuhan anak, pergaulan teman sebaya bukanlah segala-galanya. Makna sosialisasi yang utama adalah penanaman nilai (values). Teman sebaya bukanlah role model yang tepat untuk mengajari anak tentang nilai-nilai yang baik. Melalui keluarga, terbangun nilai-nilai apa yang seharusnya menjadi pegangan untuk interaksinya dengan teman dan masyarakat saat bertumbuh besar. Makna lain sosialisasi adalah membangun keterampilan sosial seperti berkomunikasi, mengenal aturan main, berbagi, berempati, dan lainnya. Sosialisasi memiliki 2 bentuk yaitu sosialisasi vertikal (lintas umur) dan sosialisasi horizontal ( teman sebaya ).

Tantangan keluarga homeschooling adalah harus selalu membuka diri untuk proses tumbuh kembang anak dengan memfasilitasi melalui berbagai kegiatan yang sesuai kebutuhan anak.

Homeschooling dengan filosofi pendidikan yaitu dengan mengeluarkan potensi dan menumbuhkan kebaikan-kebaikan internal yang ada pada anak. Peran utama orangtua di dalam homeschooling bukanlah menjadi guru (sumber informasi/ pengetahuan) tetapi sebagai inspirator, fasilitator, atau pelatih (coach)

Ciri pembelajar mandiri

  • Memiliki motif internal - memiliki motivasi dari dirinya sendiri untuk belajar bukan yang baru belajar kalau disuruh.
  • Berorientasi tujuan - memiliki tujuan tentang apa yang ingin diraihnya.
  • Terampil mencari bahan belajar -
  • Pandai mengelola diri - pandai mengelola waktu dan sumber daya yang dimilikinya, tahu kapan harus bekerja keras dan kapan harus beristirahat.

Persiapan anak menjadi pembelajar mandiri

  • Sediakan lingkungan kultur yang kondusif - budayakan
  • Bangun kebiasaan hidup terencana - Diskusikan dengan anak mengenai mimpi, visi, tujuan dan rencana-rencana mereka, bantu mereka untuk merealisasikan yang direncanakannya menjadi kenyataan.
  • Latih keterampilan belajar - Berikan kail, bukan ikan. Ajari anak menggunakan search engine, kamus, keterampilan bertanya dan mencari informasi, mengikuti tutorial, peta dan life skills lainnya.

Effektifitas belajar

  • Ceramah 5%
  • Membaca 10%
  • Audio-visual 20%
  • Demonstrasi 30%
  • Diskusi Kelompok 50%
  • Praktik 75%
  • Mengajar orang lain - mengaplikasikan pengetahuan 90%
Belajar modular adalah proses belajar yang disusun berdasarkan mata pelajaran, bukan paket pelajaran. Anak belajar sesuai kecepatannya masing-masing untuk setiap mata pelajaran.

Magang adalah proses belajar dari seorang ahli melalui kegiatan di dunia nyata. Magang bisa mengambil bentuk yang beragam mulai sederhana hingga kompleks.

Sebagai sebuah metode komunikasi, bertanya sangan bermanfaat untuk melatih anak berpikir kritis, berpendapat dan terbiasa mengungkapkan apa yang ada dalam dirinya. Dampak utama dari kebiasaan bertanya dan menanyakan pendapat anak adalah membangun sikap aktif pada anak.

Subscribe to You Live What You Learn

Don’t miss out on the latest issues. Sign up now to get access to the library of members-only issues.
[email protected]
Subscribe